Selasa, 29 September 2015

Santo Fransiskus

Santo Fransiskus Assisi
 
 

Masa kecil dan muda

Terlahir dengan nama Giovanni Bernardone, biasanya dikenal dengan Fransisko (bahasa Italia: Francesco). Ayahnya, Pietro, adalah seorang pedagang pakaian kaya. Tentang ibunya, Pica, sedikit yang diketahui. Fransiskus memiliki beberapa saudara lainnya.
Ada sejumlah penjelasan yang berbeda tentang asal usul nama Fransisko ("orang Perancis"). Satu penjelasan menyebut bahwa nama itu diberikan oleh ayahnya tidak lama setelah ia lahir, yang kembali ke Assisi dari perjalanan ke Perancis. Penjelasan lainnya mengatakan bahwa pada masa kecilnya ia sudah menguasai bahasa Perancis (mungkin dikarenakan ibunya diyakini adalah orang Perancis).
Berontak terhadap bisnis ayahnya dan pengejaran terhadap kekayaan, Fransiskus menghabiskan masa mudanya dengan membaca buku (dikarenakan ayahnya yang kaya mampu membiayai pendidikan nomor satu untuk anaknya dan dia menjadi lancar dalam membaca beberapa bahasa termasuk Latin). Dia juga juga dikenal untuk minum dan menikmati kebersamaan dengan teman-temannya, yang juga biasanya merupakan anak dari bangsawan.
Sejak muda ia sudah kecewa terhadap dunia sekitarnya. Salah satunya tampak dalam kisah perjumpaannya dengan seorang pengemis. Dalam cerita ini, ia sedang bermain dengan teman-temannya, lalu datanglah seorang pengemis dan meminta sedekah. Ketika teman-temannya tidak memedulikan permohonan pengemis itu, Fransiskus memberikan orang itu semuanya yang ada di kantongnya. Teman-temannya dengan cepat memaki dan mengoloknya atas kebodohannya, dan ketika ia sampai di rumah, ayahnya memakinya karena marah.
Pada 1201 dia bergabung dalam peperangan melawan Perugia, ditawan, dan menghabiskan setahun dalam penjara. Kemungkinan perubahan dirinya ke pikiran yang lebih serius merupakan proses berangsur yang berhubungan dengan pengalamannya ini.
Konon pada suatu waktu, ketika ia menghindari olokan bekas teman-temannya, dan mereka bertanya sambil tertawa apakah ia pernah berpikir untuk menikah, dia menjawab, "Ya, seorang pengantin yang lebih cantik dari yang pernah kalian lihat." Maksudnya adalah "putri kemiskinannya", seperti yang biasa dia katakan kelak.
Dia menghabiskan banyak waktunya menyendiri, meminta penerangan kepada Tuhan. Pada suatu saat dia mengambil untuk merawat korban paling menjijikkan di rumah sakit kusta dekat Assisi.
Setelah ziarah ke Roma, di mana dia mengemis pada pintu gereja untuk orang miskin, dia mendapat penglihatan di mana dia mendengar suara yang memanggilnya untuk memulihkan Gereja Tuhan yang rusak. Dia berpikir ini tentunya gereja St. Damianus yang telah rusak dekat Assisi. Ia menjual kudanya bersama sejumlah kain dari toko bapaknya, lalu memberikan hasilnya kepada pastur untuk maksud ini.
Pietro, yang marah besar, mencoba untuk menyadarkannya, pertama dengan ancaman dan kemudian dengan hukuman badan. Setelah percakapan terakhir di hadapan seorang uskup, Fransiskus menolak semua keinginan bapaknya, bahkan menyingkirkan kain yang diterima dari bapaknya, dan untuk sementara ia menjadi pengelana gelandangan di perbukitan sekitar Assisi.
Kembali ke kotanya di mana ia menghabiskan dua tahun waktunya, ia memulihkan beberapa gereja yang telah runtuh, di antaranya adalah kapel kecil St Maria para Malaikat, Assisi, sedikit di luar kota, yang kemudian menjadi tempat tinggal kesukaannya.




Santo Pelindung bagi Lingkungan Hidup

Menurut legenda St. Fransiskus berkhotbah kepada burung-burung dan binatang-binatang lain, selain kepada manusia juga. Kini ia dikenal sebagai santo pelindung bagi binatang dan lingkungan hidup. Patungnya seringkali diletakkan di taman untuk menghormati minatnya terhadap alam. Pestanya dirayakan pada 4 Oktober.







Selasa, 08 September 2015

Woking to the Yogyakarta


         Pada liburan kenaikan kelas saya pergi ke Yogyakarta. Saya pergi ke Yogyakarta menggunakan mobil bus, perjalanan nya cukup panjang, sehingga saya sampai di Yogyakarta pada malam hari, sesampai di Yogyakarta sekitar jam 12.00 malam, sesudah sampai saya dan nenek saya di jemput sekitar jam 01.00 malam menggunakan taxsi. Di perjalanan ke Hotel saya melihat kota Yogyakarta indah, banyak gedung-gedung tempat perbelanjaan, dan tempat belanja untuk oleh-oleh. Setelah sampai di Hotel, saya dan nenek saya cepat-cepat masuk,  ganti baju, dan tidur.
             Ke esokan hari nya saya,om saya dan semua berangkat menuju Candi Borobudur, sesampai di sana saya dan semua nya membeli tiket, setelah membeli tiket kami masuk ke halaman depan candi Borobudur, di sana kita mulai menaiki candi Borobudur yang tinggi sekali, di sana aku mencoba memegang salah satu isi dari candi yang kecil, konon kalau yang memegang isi dari candi kecil itu keinginan nya bisa terkabul kata nya, saya mencoba mengulurkan tangan saya sepanjang-panjangnya, tetapi tidak bisa saya pegang karena saya sudah mengulurkan tangan sudah tepat di dalam isi candi kecil itu tetapi arca(isi dari candi kecil) itu seperti menjauh dari tangan saya, sesudah itu saya jalan lagi ke atas sampai kami kelelahan dan di sana saya berfoto-foto di dekat candi, setelah itu kami turun dari atas candi dan itu turun nya kebayang seremnya. Setelah dari Candi Borobudur kami pergi ke Malioboro pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia, saya dan nenek saya membeli oleh-oleh yaitu baju, setelah membeli baju kami pergi ke toko batik di Malioboro. Setelah itu kami pulang ke Hotel.
           Ke esokan hari nya pada siang hari kami pergi ke pantai Parangkeritis kami sampai di sana menjelang sore, tujuan kami ke pantai itu adalah melihat sunset(matahari terbenam), setelah sampai kami ke pinggir pantai untuk menikmati ombak pada sore hari setelah itu kami pulang ke Hotel.
              Besok nya kami pulang ke rumah masing-masing dengan menggunakan kereta pada pagi hari Jam 10.00 pagi. Setelah kereta api berangkat saya melihat banyak sekali gedung-gedung perkantoran mau pun gedung perbelanjaan, Kereta Api yang saya naiki cukup cepat dari pada kereta yang biasa saya naiki. Setelah lama di perjalanan akhirnya saya sampai juga di kota Sukabumi pada malam hari,saya dan nenek saya sangat capek, setelah ganti baju, saya dan nenek saya tidur pulas.
           
             Sekian cerita saya di Yogyakarta
                              
                              Terimakasih